images

Tanggung Jawab Wanita Sebagai Istri dan Ibu

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ’anhuma, dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beliau bersabda:

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang ia pimpin.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Tidak diragukan lagi bahwa wanita memikul tanggung jawab besar di rumah suaminya. Tanggung jawab ini jauh lebih besar dari sekedar memberikan pelayanan kepada suami, memberi makan anak-anak dan mengurus rumah. Tanggung jawab ini lebih berupa peran dirinya sebagai faktor kesuksesan suami dalam hidupnya, mencari keridhaan Allah subhanahu wata’ala dan mendidik anak-anak dengan baik serta mengontrol akhlak mereka. Ini menuntut seorang wanita untuk memahami jauhnya tanggung jawab yang ia pikul dan membekali diri secukupnya serta mengenal kewajiban apa yang mesti ia tunaikan terhadap anggota keluarga yang akan ditanyakan Allah subhanahu wata’ala kepadanya.

 

Sayangnya, banyak sekali wanita zaman sekarang yang tidak bisa bersikap dengan baik kepada suaminya. Ia bukannya menolong menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya agar selesai dengan cara yang terbaik, mereka malah menjadi penghalang di atas jalan suami ke arah kesuksesan bekerja. Sebagian wanita keliru memahami bahwa mereka menganggap kehidupan suami istri adalah salah satu pertarungan kedua belah pihak yang masing-masing berusaha duduk di atas singgasana kehidupan tersebut, bukannya memahami bahwa kehidupan suami istri adalah untuk saling melengkapi, saling membantu dalam memikul tanggung jawab, menciptakan kasih dan sayang yang bisa memenuhi rumah sekaligus menjadi pondasi pergaulan suami istri.

 

Sebagai contoh saja, Anda akan jumpai sebagian wanita ingin bekerja di luar rumah meskipun akibatnya ia akan sangat menelantarkan tugas-tugasnya sebagai ibu. Walaupun ia harus mengesampingkan banyak sekali kewajiban ini dan tidak begitu perlu kepada pekerjaan di luar rumah dari sisi kebutuhan materi. Tetapi, ia terus saja memilih bekerja di luar rumah dengan membuang semua tanggung jawab tadi. Dari sinilah awal mula ia meremehkan pendidikan anak-anaknya dan mengawasi akhlak mereka. Kemudian ia baru akan terhenyak ketika anak-anaknya menyimpang, atau sebagian mereka menyimpang, setelah semuanya berlalu dan ia tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Sesungguhnya ketika ibu meninggalkan anak-anaknya dan lalai dari mendidik mereka karena kesibukan, apa pun sebabnya, bisa dikatakan ini adalah suatu kejahatan yang besar dalam diri seorang ibu. Ketika seorang anak kecil menjumpai ibu yang tidak bertanggung jawab dan melalaikan pendidikannya, pada hakikatnya ia adalah anak yatim dengan berbagai cakupan maknanya. Tepat sekali yang dikatakan seorang pemuka para penyair, ketika ia mengatakan:

Anak yatim bukan yang kehilangan orang tuanya dari kehidupan

Dia meninggalkannya dalam kondisi hina

Anak yatim adalah yang menemukan ibunya pergi sendirian dan ayahnya selalu sibuk

 

Ibu adalah yang paling dekat dengan anak, pendidikannya lebih berpengaruh kepada mereka, terlebih dalam fase-fase pertama masa kanak-kanak. Dialah yang menanamkan dalam diri mereka prinsip-prinsip, norma-norma dan akhlak yang utama. Atau sebaliknya, membiarkan mereka menjadi mangsa kebodohan dan penyimpangan. Dalam sebuah hadits yang mulia disebutkan:

 كُلُّ مَوُلُودٍ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 “Setiap bayi lahir dalam keadaaan fitrah (Islam), kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

 

Jadi, kedua orang tua, khususnya ibu, adalah yang menentukan –dengan pendidikan yang mereka berikan—perilaku anak ke depan, metode dan jalan yang akan ia tempuh dalam hidupnya. Maka dari itu, seorang ibu harus memegang kewajiban berupa tanggung jawab-tanggung jawab sebagai ibu sekaligus istri, sampai ia melaksanakan amanat yang ia pikul dengan sebaik-baiknya. Di sini akan kami ringkaskan kewajiban-kewajiban yang harus diambil oleh seorang ibu sehingga ia bisa melaksanakan tanggung jawab yang ia pikul:

1. Ibu harus menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam melaksanakan berbagai macam ibadah dan akhlak mulia yang ia perintahkan kepada mereka, seperti sifat jujur, amanah, menepati janji—walaupun terhadap anak kecil—, berani dan tidak takut mengatakan kebenaran, dermawan, suka bersedekah, mengasihi fakir miskin, dan sifat-sifat terpuji, karakter-karakter yang baik serta akhlak luhur lainnya. Seorang ibu harus mengerti bahwa jika ia tidak bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal yang ia perintahkan, maka kata-katanya hanya akan menjadi debu yang berhamburan (tidak ada gunanya). Anak-anak tidak akan percaya kepadanya walaupun ia menggunakan berbagai dalil dan alasan.

2. Hendaknya ia menunaikan hak suaminya. Jangan sampai ia bertengkar dengan suami di hadapan anak-anak. Hendaknya ia sabar menghadapi suami yang bertipe keras. Hendaknya ia menjaga kepentingan suami dan tidak berlebihan dalam menggunakan hartanya, ia gunakan harta itu untuk hal yang makruf, dan menjadi pembantu suaminya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Hendaknya ia bersikap lembut ketika memenuhi permintaan suami, supaya ia tidak melampiaskan hasratnya kepada yang haram. Hendaknya ia juga selalu ingat perkataan seorang wanita Salafus Shalih terhadap suaminya ketika hendak berangkat kerja, “Bertakwalah engkau kepada Allah terhadap kami, janganlah engkau memberi makan kami dari barang haram. Karena kami lebih bisa bersabar menahan lapar di dunia daripada bersabar menanggung api neraka di hari kiamat nanti.”

3. Hendaknya ia meninggalkan pekerjaan di luar rumah jika hanya akan menghalanginya menunaikan tugasnya sebagai istri dan ibu bagi anak-anak, jika ia memang tidak perlu sekali terhadap pekerjaan tersebut. Demikian juga, janganlah banyak berpikir memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelengkap dengan mengesampingkan urusan lain yang lebih penting, seperti mendidik anak dan memberikan pengawasan dan perhatian yang baik kepada mereka.

4. Mendorong anak-anak untuk melaksanakan shalat ketika tercapai usia tujuh tahun supaya menjadi terbiasa dengannya. Dalam sebuah hadits yang mulia:

عَلِّمُوْا أَوْلَادَكُمُ الصَّلَاةَ إِذَا بَلَغُوْا سَبْعًا,  وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا إِذّا بَلَغُوْا عَشْرًا, وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat jika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka pada usia 10 tahun (jika tidak mau shalat), dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lain. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ nomor 5867.)

 

Kemudian mengajari mereka kitab Allah dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa para sahabat radhiallahu ‘anhum mengatakan, “Kami mengajarkan kepada anak-anak kami kisah peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti kami mengajari mereka satu surat dari Al-Qur’an.” Dan juga mengarahkan mereka untuk mencintai Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam serta para sahabat yang mulia.

 

5. Tidak terlalu ketat dalam mengontrol anak, sebab ini akan menimbulkan ketidakstabilan dalam kehidupan mereka di masa mendatang. Hendaknya ia memperlakukan mereka dengan lembut tetapi disiplin dan tidak galak terhadap mereka, karena tak jarang ini akan membuahkan hasil berlawanan dengan yang diharapkan. Seorang ibu harus membaca buku tentang psikologi anak dan bagaimana menyikapinya serta berkonsultasi dengan ahli dan dokter dalam bidang tersebut.

6. Mengingatkan anak untuk menghindari teman yang jahat, serta menjelaskan kejelekan-kejelekan mereka seperti itu sehingga mereka menghindarinya. Sebab kata orang Arab, teman adalah seorang penarik.

7. Mengeluarkan barang-barang yang merusak akal dan akhlak dari dalam rumah dan tidak mentolerir masuknya majalah-majalah porno yang menampilkan bagian-bagian tubuh wanita yang mengundang fitnah serta membawa hal-hal yang diharamkan Allah, seperti kerinduan yang haram, cinta, dan asmara.

 

Sumber: “Wasiat Rasul shallallahu’alaihi wasallam kepada Kaum Wanita” (Judul Asli: Min Washayar Rasul lin Nisa’ Ma’asy Syarh wat Tahlil wa ‘Alaqatiha bil Waqi’), Adil Fathi Abdullah.

Share this:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>